Bayi Jangan Sering Terbangun Saat Tidur Agar Otaknya Optimal

13 03 2012

Selasa, 13/03/2012        Vera Farah Bararah – detikHealth

Jakarta, Bayi diketahui memiliki waktu tidur yang panjang dan lama. Orangtua sebaiknya menjaga agar bayi tidak sering terbangun saat tidur terutama malam hari untuk membantu mengoptimalkan perkembangan otaknya.

“Ketika tidur maka bayi akan mengingat kembali stimulasi yang sudah didapatnya, untuk itu sebaiknya orangtua melindungi waktu tidur bayi,” ujar dr Rosalina Dewi Roeslani, SpA(K) dalam acara Mamypoko mendampingi ibu mendapatkan pemahaman yang tepat seputar mitos perawatan bayi baru lahir di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (13/3/2012).

dr Rosalina menuturkan saat tidur bayi akan mengalami fase REM (Rapid Eye Movement) dan juga fase Non-REM (Rapid Eye Movement). Ketika bayi memasuki fase REM maka ia akan mengingat bagaimana cara berjalan, bergerak. Sedangkan saat fase Non-REM ia akan mengingat suara ibu, suara ayah, suara televisi atau suara pintu.

“Stimulasi yang didapatkan si anak ini akan mempengaruhi perkembangannya dan bayi yang terganggu tidurnya bisa mengalami masalah terutama mental seperti gangguan tingkah laku,” ujar dr Rosalina.

Hal ini juga didukung oleh studi yang menggunakan bayi di dalam inkubator yang mana ia tidur sendiri, tidak ada ibu, dan pintu inkubator seringkali dibuka untuk mengambil darah bayi atau membetulkan posisi oksigen.

Dalam studi ini diketahui bayi yang tidurnya terganggu atau sering terbangun akan mengalami masalah tumbuh kembang salah satunya adalah mengganggu kepercayaan si bayi terhadap orang dewasa.

“Untuk itu sebaiknya bayi jangan sering terbangun ketika sedang tidur terutama di malam hari,” ujar dr Rosalina dari Divisi Perinatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Seorang bayi yang baru lahir hingga ia berusia 2 bulan membutuhkan waktu tidur sampai 18 jam sehari, bayi berusia 3-11 bulan membutuhkan waktu tidur 9-12 jam dan ditambah dengan tidur siang.

(ver/ir)

 





Udara Dingin Tingkatkan Risiko Serangan Jantung Saat Olahraga

5 03 2012

Senin, 05/03/2012       Adelia Ratnadita – detikHealth

Jakarta, Suhu rendah dan aktivitas fisik meningkatkan kebutuhan tubuh akan oksigen. Menghirup udara dingin selama aktivitas fisik tertentu, dapat meningkatkan kebutuhan tubuh akan oksigen, yang dapat menempatkan orang-orang dengan penyakit jantung berisiko lebih besar untuk serangan jantung atau kematian. Hal tersebut berdasarkan hasil studi baru.

“Studi ini dapat membantu memahami mengapa udara dingin adalah suatu pemicu kejadian jantung koroner atau serangan jantung. Jika melakukan beberapa jenis pekerjaan isometrik dan menghirup udara dingin, maka jantung melakukan pekerjaan yang lebih berat dan kebutuhan oksigen meningkat,” kata Lawrence Sinoway, direkturHeart and Vascular Institute di Pennsylvania State College of Medicine seperti dilansir dari MSNHealthNews, Senin (5/3/2012).

Para peneliti menggunakan tes pegangan tangan, yang menginstruksikan pada peserta untuk meremas pegangan tersebut. Gerakan tersebut merupakan sebuah gerakan yang dikenal untuk meningkatkan tekanan darah untuk mempelajari jantung dan fungsi paru-paru orang dewasa sehat yang berusia 20-60 tahun saat terkena suhu udara dingin dan normal.

Para peneliti menemukan perbedaan dalam penawaran dan permintaan di ventrikel kiri peserta penelitian. Ventrikel kiri merupakan bagian dari jantung yang menerima darah yang mengandung oksigen ketika melakukan tes pegangan tangan di udara yang dingin.

Para peneliti mencatat bahwa, karena jantung para peserta termasuk sehat, mereka mampu mengimbangi perubahan tersebut dan terus bekerja dengan benar. Orang dengan penyakit jantung, bagaimanapun tidak mungkin dapat mengimbangi meningkatnya permintaan oksigen.

Hasil penelitian baru tersebut dapat menjelaskan mengapa serangan jantung fatal memiliki puncak selama musim dingin. Hasil penelitian baru tersebut telah diterbitkan dalam Journal of Applied Physiology and The American Journal of Physiology, Heart and Circulatory Physiology.

Matius Muller, postdoctoral fellow di Jantung Penn State dan Vascular Institute, mengatakan Hasil penelitian tersebut sejalan dengan apa yang diharapkan oleh para peneliti.

“Selama ini kami berpikir bahwa, kebutuhan oksigen di dalam jantung akan lebih tinggi dengan udara dingin yang masuk ke dalam saluran pernapasan. Kami juga berpikir bahwa, pasokan oksigen akan menjadi sedikit terganggu. Kondisi tersebut umumnya telah kami temukan dalam penelitian,” jelasnya.

(del/ir)

 





Sayuran yang Bikin Kulit dan Rambut Kinclong

3 03 2012

Jakarta, Bila Anda memiliki tubuh yang sehat dari dalam, makan hasilnya akan tampak dari luar. Oleh karena itu, bila ingin mendapatkan kulit dan rambut sehat dan cantik, konsumsilah makanan sehat seperti sayur-sayuran segar.

Beberapa sayuran bisa membuat rambut dan kulitnya Anda kinclong, karena banyak mengandung vitamin, mineral dan antioksidan yang akan memberikan kesehatan optimal sepanjang hidup.

Berikut beberapa sayuran yang memberi manfaat lebih pada kesehatan kulit dan rambut, seperti dilansir Livestrong, Sabtu (3/3/2012):

1. Sayuran berwarna oranye dan kuning

Sayuran berwarna oranye mengandung beta-karoten yang merupakan pigmentasi dan antioksidan (karotenoid) yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, yang pada gilirannya dapat membantu meningkatkan pertumbuhan rambut dan kulit yang sehat. Sayuran berwarna kuning juga mengandung karotenoid dan memiliki banyak manfaat seperti halnya sayuran berwarna oranye.

Selain itu, sayuran berwarna mencolok ini juga banyak mengandung vitamin A, vitamin C, serat, flavonoid dan zat gizi lain seperti kalsium dan kalium dalam jumlah bervariasi.

Beberapa sayuran berwarna oranye dan kuning adalah wortel, labu, paprika kuning, ubi kuning dan ubi manis, labu, jagung manis, tomat kuning dan tomat jeruk.

2. Sayuran berwarna merah

Sayuran berwarna merah banyak mengandung fitokimia, yang dapat mengurangi radikal bebas penyebab malapetaka bagi kulit dan rambut. Selain itu, sayuran berwarna merah mengandung lycopene, yaitu fitokimia tertentu yang memberikan warna merah dan merupakan antioksidan kuat yang diperlukan untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Beberapa sayuran berwarna merah meliputi tomat, paprika merah dan bawang merah.

3. Sayuran berwarna hijau

Sayuran berwarna hijau mengandung tinggi serat, rendah lemak, kaya akan asam folat, vitamin C, zat besi, kalsium, kalium dan magnesium. Selain itu juga mengandung sejumlah fitokimia seperti lutein, beta-cryptoxanthin, zeaxanthin dan beta-karoten.

Kandungan ini berkontribusi pada sistem kekebalan tubuh yang sehat dan kemudian dapat membantu kinerja tubuh dan meningkatkan pertumbuhan rambut dan kulit yang sehat.

Ada banyak sayuran hijau seperti kecambah Brussels, selada, bayam, brokoli, kacang polong, kacang hijau, ketimun, paprika hijau, asparagus, kacang lima dan seledri.

(mer/ir)





Dr Tinah Tan, Dokter Chiropractic Wanita Pertama Indonesia

27 02 2012

Senin, 27/02/2012 Merry Wahyuningsih – detikHealth

Jakarta, Dokter chiropractic mungkin masih terdengar asing untuk Anda karena memang jumlah dokter chiropractic atau yang lebih dikenal dengan chiropractor belum banyak di Indonesia. Dari jumlahnya yang masih sedikit itu, Dr Tinah Tan, B.Med, B.AppSc, B.Chiro Sc, FICC adalah salah satunya. Ia bahkan merupakan chiropractor wanita pertama di Indonesia.

Diambil dari kata yunani, yaitu ‘chiro’ yang berarti oleh tangan dan ‘practic’ yang artinya praktik, chiropractic merupakan ilmu pengobatan alternatif ilmiah yang dapat memperbaiki susunan tulang belakang yang salah, yang dapat menyebabkan iritasi atau gangguan pada sistem saraf.

Kenapa tulang belakang? Karena di tulang belakanglah semua saraf-saraf berkumpul. Terdapat ratusan saraf yang ada di tulang belakang dan setiap saraf terhubung dengan sistem regulasi tubuh dan mengontrol semuanya.

Berbekal dengan ilmu kedokteran yang sudah diperolehnya dari Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya, Jakarta, Dr Tinah harus menempuh pendidikan chiropractic selama 3 tahun di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Melbourne, Australia, karena memang pendidikan tersebut belum ada di Indonesia bahkan hingga saat ini.

“Sejujurnya saya kenal chiropractic juga waktu di Australia, tadinya saya tidak tahu ada ilmu ini. Waktu itu tunangan saya sedang sakit pinggang, saya pikir okelah saya belajar. Dan waktu itu di Indonesia belum ada, jadi very good kalau saya bisa belajar lalu saya bawa ilmunya. Jadi itu cerita di tahun 1996,” ujar Dr Tinah Tan, B.Med, B.AppSc, B.Chiro Sc, FICC, saat ditemui di Kidzania Pacific Place Mall, Jakarta, seperti ditulis Senin (27/2/2012).

Awalnya ilmu chiropractic ditemukan oleh seorang yang berasal dari Kanada, bernama D.D. Palmer pada tahun 1865. Pengobatan ini sering dianggap tradisional karena tidak menggunakan obat-obatan maupun tindakan operasi. Prinsip dasar terapi ini adalah penyembuhan dengan tangan, tanpa obat atau operasi. Namun menurut Dr Tinah, chiropractic tidak lagi disebut pengobatan tradisional melainkan complementary health medicine.

“Kita bisa memberikan suplemen, bukan obat. Kenapa? Kita bukannya anti dengan obat. Kalau anak atau orang dewasa tidak butuh obat, kita tidak perlu kasih

obat, kecuali kalau dia misalnya sakit tifus kalau kita tunggu sembuh sendiri ya bakalan lama. Pemberian suplemennya itu kita cek dulu. Contoh, ini anak kok terlalu lentur ya, ini kekurangan zinc ,saya tambahkanlah suplemen zinc. Tapi kalau anaknya kaku disuruh nekuk nggak bisa, berarti kebanyakan kalsium maka kalsiumnya jangan ditambahin lagi,” jelas Dr Tinah.

Kebanyakan pasien yang datang ke klinik chiropractic umumnya mengeluh sakit pinggang, punggung, leher dan kepala. Namun masalah-masalah lain seperti sakit perut, migrain, asma, hiperaktif bahkan lemah syahwat dan sulit hamil pun bisa diatasi.

“Chiropractic aman karena kita mempelajarinya in detail dan kita punya observasinya. Jadi tidak seperti tukang urut yang main langsung tarik saja,” lanjut dokter kelahiran 25 Maret 1973 ini.

Di Indonesia sendiri, menurut Dr Tinah, chiropractic baru ada sejak tahun 2009. Kini, bagi dokter yang berminat menjadi seorang chiropractor atau juga bisa disebut ‘dokter tulang belakang’, sudah ada biomechanical course yang disedikan untuk dokter indonesia dan sudah dilengkapi dengan kurikulum.

Chiropractic belum bisa disamakan dengan dokter spesialis, karena pendidikannya harus ditempuh dari dokter umum yang kemudian ditraining selama 3 semester atau 18 bulan untuk bisa menjadi seorang chiropractor.

“Di Indonesia lebih aman dokter dulu karena kasus di sini cukup kompleks. Kalau di Australia bisa bukan dari dokter, tapi belajarnya 5 tahun untuk jadi dokter chiropractic, kalau di sini kan mereka sudah dokter dulu baru tambah 3 semester atau 18 bulan,” jelas Dr Tinah.

Saat ini, pendidikan chiropractic sedang diusahakan agar bisa dimasukkan ke dalam kurikulum di kampus-kampus Indonesia. Salah satunya adalah pendekatan yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya, Jakarta.

“Mudah-mudahan kita lagi approach Atmajaya, itu kita masukkan ilmu complementary medicine. Kita lagi coba masuk, mudah-mudahan tahun ini happening, kita udah recess dari tahun 2009 belum keterima-terima karena tenaganya belum ada. Mudah-mudahan tahun ini,” harap ibu 3 anak ini.

BIODATA

Nama lengkap
Dr Tinah Tan, B.Med, B.AppSc, B.Chiro Sc, FICC

Tempat dan tanggal lahir
Jakarta, 25 Maret 1973

Status
Menikah dengan Daud Pranoto, dikarunia 3 orang anak

Riwayat pendidikan
Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya
Dokter Chiropractic Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Melbourne, Australia
Paediatric Chiropractic RMIT Melbourne
Spinecor Training for Scoliosis RMIT Melbourne

Tempat praktek
Citylife Chiropractic Clinic
Apartement Mediterinia Tower C Rk 45B
Kelapa Gading Jakarta

(mer/ir)





Jangan Beri Gula dan Garam untuk Makanan Anak di Bawah 1 Tahun

25 02 2012

Jumat, 24/02/2012 Merry Wahyuningsih – detikHealth

Jakarta, Agar anak menyukai semua jenis makanan terutama sayur, maka jangan ajari anak mengenal rasa manis dan asin sejak dini. Sebelum usia 1 tahun, tidak perlu menambahkan gula dan garam pada makanan anak.

“Titik kritis makan anak adalah saat memberikan makan pendamping ASI (MPASI),” jelas DR dr Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, ahli gizi klinik dari Departemen Gizi FKUI-RSCM, dalam acara Media Edukasi ‘Kenali Jenis Gula Tambahan, Indeks dan Beban Glikemik Serta Dampaknya pada Anak!’ di The Energy Cafe, Jakarta, Kamis (23/2/2012).

Menurut DR Fiastuti, ajari anak makan makanan bervariasi, perkenalkan dengan satu-satu tapi bergantian untuk semua makanan, karena tidak ada satu pun makanan yang kandungan gizinya sempurna.

Pada saat masa kritis itu, sebelum anak berusia 1 tahun juga tidak perlu menambahkan gula dan garam pada makanannya. Memperkenalkan rasa gula dan garam terlalu dini pada anak bisa membuatnya ‘craving’ (mengidam atau keinginan terus menerus) dengan makanan manis atau asin, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan.

“Biarkan anak merasakan rasa alami dari makanan tanpa gula dan garam. Biarkan dia merasakan rasa buah alami, susu alami atau rasa ayam tanpa garam,” jelas DR Fiastuti.

Tidak membiasakan konsumsi gula dan garam sejak dini juga tidak akan membuat anak memilih-milih makan, terutama makanan yang dianggap lebih sehat.

“Kenapa banyak anak yang tidak doyan sayur? Karena orangtuanya sudah mengajarkan makanan yang manis dari kecil, sedangkan sayur itu kan rasanya hambar jadi anak tidak mau. Kalau dia tidak dibiasakan makan manis dari kecil, dia tidak akan memilih-milih makanan,” tutup DR Fiastuti.

(mer/ir)





Terbangun dari Tidur Malam Hari Bagus untuk Kesehatan

25 02 2012

Jumat, 24/02/2012 Putro Agus Harnowo – detikHealth
Jakarta, Seringkali orang khawatir jika terbangun dari tidur di malam hari. Namun beberapa bukti menunjukkan tidur malam selama delapan jam penuh sebenarnya tidak alami. Yang alami adalah tidur setiap empat jam dan kemudian terbangun selama satu atau dua jam, kemudian tidur lagi selama empat jam.

Seorang psikiater bernama Thomas Wehr melakukan percobaan di mana sekelompok orang diminta untuk tidur 14 jam setiap hari selama satu bulan. Butuh waktu bagi para peserta agar dapat mengatur pola tidurnya. Pada minggu keempat, kesemua peserta telah dapat menyesuaikan pola tidurnya. Peserta tidur selama empat jam, kemudian bangun selama satu atau dua jam kemudian tidur lagi selama empat jam.

Tak hanya itu, ilmuwan bernama Roger Ekirch dari Virginia Tech menerbitkan makalah yang disusun dari penelitian selama 16 tahun. Ia mengungkapkan banyak bukti sejarah bahwa manusia di zaman dahulu terbiasa tidur selama dua waktu dalam semalam.

Bukunya yang berjudul ‘At Day’s Close: Night in Times Past’ berisi lebih dari 500 referensi pola tidur dari buku harian, catatan pengadilan, catatan kesehatan dan buku sastra. Buku ini menggambarkan tidur pertama dimulai sekitar dua jam setelah senja, kemudian terbangun selama satu atau dua jam dan kemudian tidur lagi untuk yang kedua kalinya.

Selama periode bangun di antara dua tidur ini, tubuh cukup aktif. Orang sering bangun, pergi ke toilet atau merokok dan bahkan mengunjungi beberapa tetangga. Namun kebanyakan orang tetap di tempat tidur, membaca, menulis dan seringkali berdoa. Sudah ada banyak buku tentang doa yang tak terhitung jumlahnya dari abad ke-15 berisi tentang doa khusus untuk jam di antara dua tidur ini.

Petunjuk dari dokter di Perancis abad ke-16 menyarankan kepada pasangan suami istri bahwa waktu terbaik untuk hamil bukan setelah bekerja seharian, tetapi setelah bangun dari tidur pertama, yaitu ketika suasana lebih tenang dan dapat berhubungan seks dengan lebih baik.

Gagasan yang mendukung tidur pertama dan kedua ini mulai menghilang selama abad 17-an. Diduga hal ini disebabkan kalangan kelas atas di Eropa Utara menurunkan kebiasaannya tidur selama 8 jam penuh ke seluruh masyarakat Barat. Pada tahun 1920, kebiasaan tidur pertama dan kedua telah sepenuhnya hilang.

“Malam hari pada abad ke-17 berkaitan dengan banyak hal yang tidak baik. Malam adalah waktu yang dihuni oleh orang-orang jahat, pelacur dan pemabuk. Tidak ada gengsi atau nilai sosial yang berkaitan dengan begadang semalaman,” kata sejarawan, Craig Koslofsky, penulis buku ‘Evening’s Empire’ seperti dilansir BBC, Jumat (24/2/2012).

Saat ini, kebanyakan orang tampaknya telah beradaptasi untuk tidur selama delapan jam penuh. Tetapi Ekirch percaya bahwa banyaknya gangguan tidur saat ini berasal dari dorongan alami dari tubuh untuk tidur terpotong tiap empat jam sekali. Itulah mengapa banyak orang yang mengaku insomnia kemudian tidak mudah tertidur kembali.

“Banyak orang bangun di malam hari dan kemudian panik. Saya memberitahu mereka bahwa apa yang mereka alami merupakan pola tidur yang terpisah dan hal itu baik bagi mereka. Lebih dari 30% gangguan kesehatan yang terjadi disebabkan dari tidur, baik langsung maupun tak langsung,” ujar Russell Foster, profesor jam tubuh neuroscience di Oxford University.

Jacobs menunjukkan bahwa periode antara bangun tidur bisa memainkan peran penting bagi manusia untuk mengatur stres secara alami. Dalam catatan sejarah, ditemukan bahwa banyak orang yang memanfaatkan waktu itu untuk merenungkan mimpinya.

“Saat ini hanya sedikit orang yang melakukan hal ini. Maka bukan hanya kebetulan jika dalam kehidupan modern, jumlah orang yang mengalami kecemasan, stres, depresi, ketergantungan alkohol dan penyalahgunaan narkoba semakin naik,” kata Dr Jacobs.

Jadi, jika terbangun di tengah malam, pikirkanlah kebiasaan orang-orang di masa lampau dan bersantai. Karena terbangun di tengah malam bisa jadi baik untuk kesehatan.

(pah/ir)





Prof Dr Satyanegara, Maestro Bedah Saraf Indonesia

20 02 2012

Senin, 20/02/2012              AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

Jakarta, Bedah membedah otak mulai dari kasus tumor otak, hidrosefalus, pikun, koma hingga stroke telah dilakoni Prof Dr dr Satyanegara, SpBS dalam separuh lebih perjalanan hidupnya yang kini di usia 73 tahun. Prof Satyanegara tercatat sebagai salah satu maestro bedah saraf Indonesia.

Memang ia bukan pelopor pertama, karena ada dokter-dokter lain yang lebih dulu menjadi pionir bedah saraf di Indonesia seperti Prof Suwaji, Prof Handoyo, Prof Iskarno dan Prof Patmo.

Tapi nama Prof Satyanegara kian moncer setelah kasus-kasus sulit seputar stroke dan batang otak banyak yang berhasil ditanganinya menjadi pembicaraan banyak orang.

Bukan cuma di Indonesia, di Jepang nama Prof Satyanegara sebagai maestro bedah saraf juga sangat diperhitungkan. Pada tahun 2005 ia pernah mendapat penghargaan The Order of Rising Sun Gold Ray With Neck Ribbon, yang diberikan langsung oleh Kaisar Jepang.

Di dalam negeri, Prof Satyanegara pernah menerima penghargaan yang untuk bidang kedokteran dari Achmad Bakrie Award tahun 2011. Penghargaan ini diberikan atas jasanya dalam menemukan protein dan antibodi spesifik untuk mematikan tumor.

Sejak pulang ke Indonesia pada tahun 1972, Prof Satyanegara yang sejak lulus SMA melanjutkan kuliah kedokterannya di Jepang ini langsung mengemban jabatan dan tanggung jawab yang besar. Selain pernah menjadi direktur RS Pusat Pertamina, ia juga mengetuai tim dokter kepresidenan era Soeharto dan Gus Dur.

Perjalanannya menjadi salah satu pakar bedah otak terbaik cukup panjang. Dimulai ketika setamat SMA di Surabaya, ia sudah punya cita-cita sekolah dokter di Jepang. Walaupun kemungkinannya tipis untuk sekolah dokter di Jepang tapi tekadnya selalu besar, hingga akhirnya bisa sekolah dokter di Kyushu University.

“Tekad berjuang perlu ada motivasinya. Ingin menonjol, ingin diakui oleh orang lain adalah motivasi saya. Langkah pertama akan menjadi awal dari hasil yang diinginkan,” tulis Prof Satyanegara di bukunya ‘Ayat-ayat Filosofi Satyanegara’.

Di Jepang lah ia belajar sungguh-sungguh, hingga kepulangannya ke Indonesia pada tahun 1972 dan Prof Satyanegara selalu mengaku terus belajar meski kini sudah didaulat sebagai pakar bedah otak.

Dalam menangani penyakit-penyakit pembuluh darah otak yang penting menurut Prof Satyanegara adalah mengatasi kelainan atau penyakit yang mendasarinya. Diagnosis tepat dan dini juga tidak kalah penting mengingat pengobatan yang salah dapat menimbulkan keadaan yang lebih buruk pada si penderita, sebab disamping pengobatan konservatif berupa obat-obatan, ada juga pengobatan yang berupa tindakan.

Meskipun penyakit pembuluh darah otak mempunyai angka kematian yang tinggi, bila cepat ditangani masih banyak kesempatan untuk menolong pasien. Untuk penderita stroke akibat penyumbatan jika tiba di rumah sakit dan memulai pengobatan pada golden time (periode emas) yaitu kurang dari 6 jam setelah serangan, akan memperoleh hasil akhir pengobatan yang lebih baik.

Dalam menangani kasus penyakit pembuluh darah, Prof Satyanegara juga mengakui perlu memahami kepribadian dan keadaan keluargnya, lingkungan dan latar belakang si penderita. “Ini perlu karena pada umumnya penderita penyakit tersebut adalah orang dengan usia yang telah matang atau dewasa tua atau juga mereka mempunyai kedudukan penting sebagai tulang punggung keluarga maupun dalam tugasnya,” tulis Prof Satyanegara.

Diakuinya, meskipun penyakit yang berbahaya sudah bisa diatasi atau jiwa pasien selamat, banyak yang masih menderita cacat sisa akibat penyakit stroke yang membuat pasien tidak mampu melakukan tugas maupun pekerjaan seperti semula. Bahkan ada yang begitu berat sisa cacatnya sehingga tidak sanggup merawat dirinya sendiri dan perlu bantuan orang lain untuk melanjutkan kehidupannya. Keadaan ini kata Prof Satyanegara, membuat pasien sangat rentan mengalami gangguan mental dan psikologis sehingga sering jatuh dalam keadaan depresi atau putus asa.

Karena itu lanjut Prof Satyanegara, selain pengobatan penyakit dan rehabilitasi secara medis, perlu adanya pengertian dari lingkungan dan penyesuaian diri si pasien untuk menghadapi lingkungan sekitarnya pada hari-hari selanjutnya yang mungkin akan jauh berbeda dengan sebelumnya.

“Sebetulnya apabila si pasien bisa menerapkan falsafah ‘nrimo’ akan lebih mudah dan lebih banyak cara untuk menyesuaikan diri dalam menghadapi kesulitan. Memang idealnya manusia hidup tidak mengganggu orang lain dan terus produkstif. Tetapi manusia juga perlu puas dengan keterbatasannya asalkan tidak mengorbankan orang lain terlalu banyak. Orang yang mampu bisa menolong orang yang tidak mampu, orang yang bisa dapat menolong orang yang tidak bisa,” tulis Prof Satyanegara.

Dalam menghadapi keluarga pasien penyakit otak, Prof Satyanegara juga mengakui harus sabar dan memberikan penjelasan yang logis. Karena seringkali dokter menganjurkan untuk segera dilakukan tindakan operasi untuk mencegah pemburukan dan menyelamatkan nyawa pasien tapi seringkali keluarga terus berusaha menawar agar pengobatan tanpa operasi saja yang dipilih sebagai pengobatan utama. Maka itu satu hal penting yang harus diperhatikan adalah pengertian dan kerjasama yang baik antara dokter dan pasien, karena relasi keduanya akan turut mempengaruhi hasil pengobatan.

Si Kuntet yang Jadi Pelopor Bedah Saraf Indonesia

Perjalanan hidup Prof Satyanegara sangat panjang dan berliku. Lahir dengan nama Oei Kim Seng ini di Kudus, 1 Desember 1938 dari orangtua yang keduanya berasal dari Shanghai, bahkan ibunya masih ‘totok’ dan tidak bisa berbahasa Indonesia ketika pertama kali datang ke Semarang.

Masa kecilnya dihabiskan di Desa Welahan yang terletak antara Kudus dan Semarang, Jawa Tengah dengan julukan si kuntet karena tinggi badannya lebih rendah dari teman sebaya. Sebenarnya bukan karena pertumbuhannya terhambat, tapi memang perhitungan kalender China memaksanya harus memiliki usia lebih tua dari yang sebenarnya.

Prof Satyanegara yang saat itu masih remaja baru pindah bersama keluarganya ke Surabaya ketika masuk SMA. Selepas SMA, perjalanan panjang dan berliku itu dimulai ketika ia harus hijrah ke Jepang untuk belajar kedokteran dengan menumpang kapal laut selama berhari-hari.

Singkat kata setelah 14 tahun di Jepang, ia kembali lagi ke Indonesia pada 1972 sebagai salah satu dari 5 dokter pelopor bedah saraf di Indonesia. Sejumlah tugas penting langsung diembannya, termasuk memimpin RS Pusat Pertamina dan mengetuai tim dokter kepresidengan era Soeharo dan Gus Dur.

Meski murah senyum dan sangat humoris, Prof Satyanegara tetap bijak dalam menanggapi candaan tentang kesehatan seorang kepala negara. Ketika ditanya apa saja yang sering bikin presiden migrain dan sering sakit kepala, ia menjawab dengan sangat serius meski tetap sambil melempar senyum ramahnya.

“Ini pertanyaan yang sangat berbahaya. Untuk menjawabnya saya harus buka data, dan saya tidak pegang datanya. Jadi maaf, saya tidak bisa jawab,” kata Prof Satyanegara dengan sura lirih nyaris tak terdengar saat ditemui di RS Mayapada Tangerang, seperti ditulis Senin (20/2/2012).

BIOGRAFI

Nama lengkap:
Prof Dr dr Satyanegara, SpBS (Oei Kim Seng)

Tempat dan tanggal lahir:
Kudus, 1 Desember 1938

Pendidikan:
1967: Fakultas Kedokteran Kyushu University
1972: Lulus sebagai Doktor bidang Neurologi di Tokyo University.

Riwayat karir:
Direktur RS Pusat Pertamina Jakarta
Direktur Gleneagles Hospital Jakarta
Direktur RS Pantai Indah Kapuk Jakarta
Direktur RS Satya Negara Sunter Jakarta
Praktik di RS Mayapada Tangerang
Tim dokter kepresidenan.

Penghargaan:
The Order of Rising Sun Gold Ray With Neck Ribbon dari Kaisar Jepang (2005)
Rekor MURI sebagai Penulis Buku Ilmu Bedah Saraf Pertama di Indonesia (2011)
Achmad Bakrie Award bidang kedokteran (2011).

(up/ir)

 





Yang Sedang Trend : Babyccinos, Cappuccino Buat Bayi

18 02 2012

Sabtu, 18/02/2012      Odilia Winneke – detikFood

Jakarta – Minum jus jeruk atau jus apel, hal biasa buat si kecil. Kini di kafe ini para ibu muda berbondong-bondong mengajak si kecil minum kopi. Mereka memesan Babyccinos, decaffeinated cappuccino dalam gelas mungil buat si kecil. Sluurp sedap!

Kota New York sedang dilanda trend baru, babyccinos. Di Brooklyn kafepun dipenuhi para ibu muda yang membawa anak-anak untuk minum kopi. Sang ibu minum kopi dan memesan babyccinos buat si kecil. Kopi ini disajikan di cangkir mungil, lengkap dengan buih lembut di permukaannya, seperti cappuccino.

‘Rasanya mirip kopi,’ komentar Barbara Albinus yang mengajak anak perempuannya (6 tahun) dan lelaki (9 tahun) minum kopi di Cafe Regular di Park Slope. ‘Saya minum kopi tiap hari dan sudah bertahun-tahun, karena itu anak-anak suka kopi,’ ujarnya.

Babyccinos dibuat dari decaffeinated cappuccino yang diberi susu hangat. Menurut barista Cafe Regular, Seth Lombardi, pada akhir pekan kafenya dipenuhi anak-anak. Maka kafepun tak ubahnya seperti tempat penitipan anak. Hal ini juga terjadi di The Root Hill, kafe di Gowanus yang sengaja memutar film “Sherk” di layar lebar untuk menghibur pelanggan ciliknya.

‘Saya pesan kopi di sini tiap hari dan anak laki-laki saya suka dan dia kemudian jadi menyukai rasanya,’ kata Melisa Foster (41 tahun) yang minum kopi bersama Michael (7 tahun) seperti dilansir The Brooklyn Paper.

Babyccino yang disajikan di kafe-kafe Brooklyn ini ada dua jenis. Yang berupa decaffeinated cappuccino dan yang hanya berupa susu rebus saja. Penggemarnya mulai dari usia 2 tahun yang biasnaya datang bersama orangtua mereka.

Namun, para dokter cemas dengan trend minum kopi ini. Dr. Wendy Slusser dari Mattel Children’s Hospital UCLA menyatakan bahwa kopi decaf atau tidak, keduanya bisa merampas zat besi pada tubuh anak-anak. ‘Pada anak anemia sekalipun akan berdampak kurang baik untuk prestasi belajar mereka,’ tegasnya.

Sedangkan sementara orang menganggap trend minum kopi ini sekedar bagian dari gaya hidup. Namun ad ajuga yang kurang setuju karena sekedar untuk bergaya tanpa memperhatikan aspek kesehatan anak-anak mereka. Kopi sudah menjadi trend seperti gaya busana?

(Odi/Odi)





Pertolongan Pertama Saat Anak Mengalami Cedera

15 02 2012

Selasa, 14/02/2012

Jakarta, Di masa pertumbuhan, anak-anak biasanya sangat aktif bergerak dan bermain, yang tak jarang bisa menyebabkan cedera baik di otot maupun sendi. Lantas apa pertolongan pertama pada anak-anak yang mengalami cedera?

Olahraga futsal, outbond dan aktifitas di luar ruangan lainnya memang sangat baik diajarkan pada anak-anak untuk merangsang sistem motorik dan tumbuh kembangnya. Namun, bila tidak hati-hati, kegiatan ini juga dapat menyebabkan anak mengalami cedera.

“Pertolongan pertama ketika anak cedera, singkatnya pertama pastikan dulu masalahnya di mana, apakah yang cedera otot atau sendi,” jelas Dr Tinah Tan, B.Med, B AppSc, B Chiro Sc, FICC, chiropractor (dokter tulang belakang) anak dari CityLife Chiropractic, dalam acara Grand Opening Establishment Salonpas Chiropractic Center di Kidzania Pacific Place Mall, Jakarta, Selasa (14/2/2012).

Kalau yang cedera adalah otot, lanjut Dr Tinah, maka pertolongan pertama yang bisa diberikan adalah menggunakan koyo atau juga kompres panas, tapi harus juga dilihat apakah ada luka terbuka atau tidak.

Namun bila yang cedera adalah sendi, maka yang harus dilakukan adalah kompres dingin dengan menggunakan batu es, bukan kompres panas. Hal ini karena es bisa membantu meminimalkan pembengkakan di sekitar cedera dan mengontrol nyeri. Es juga akan membatasi aliran darah sehingga menimbulkan mati rasa yang membantu mengurangi tekanan dalam tubuh dan rasa sakit.

“Sebaiknya tidak diurut. Diurut memang ada enaknya, tapi kalau lagi cedera diurut itu tidak enak. Derajat sakit orang kan beda-beda, sehingga kalau cedera langsung diurut hati-hati, kalau nggak ngerti malah tambah bengkak,” tegas Dr Tinah.

Dr Tinah menjelaskan, otot merupakan pertahanan tubuh pertama terhadap cedera, sebelum cedera masuk ke sendi di mana terdapat banyak saraf. Jika anak yang cedera langsung diurut tanpa melihat dulu cederanya, maka yang terjadi biasanya adalah bengkak.

“Kalau sudah bengkak maka tidak bisa diurut lagi,” jelasnya.

Sebaiknya sebelum memutuskan untuk mengurut cedera pada anak, kompreslah dulu cedera dengan kompres dingin (es batu). Seharusnya setelah 6 jam dikompres cedera akan berkurang, namun bila tidak maka sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

(mer/ir)

 





Cara Tradisional Atasi Batuk bagi Ibu Hamil

12 02 2012

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketika batuk, perut akan bergerak naik turun, bayi akan turut merasakan batuk anda. Tak perlu khawatir, bayi tidak akan terpengaruh secara fisik. Anda cukup memegang perut bagian bawah agar perut anda tidak tegang.

Yang cukup berbahaya adalah jika batuk sampai menyebabkan lendir sehingga sulit bernafas. Ini penting diwaspadai, mungkin anda mengalami infeksi dada. Infeksi dada ini bisa mempengaruhi bayi yang sedang dikandung.

Pada dasarnya tidak ada cara untuk mencegah batuk menyerang ibu hamil. Rajin mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air panas, bisa meminimalisir resiko batuk. Ibu hamil harus hidup dengan pola makan yang sehat dan memiliki jam tidur malam secukupnya.

Jika sudah terlanjur batuk, untuk meredakannya, bisa membuat secangkir madu yang dicampur jeruk nipis. Madu bisa menenangkan tenggoraokan yang gatal. Ramuan ini baik diminum saat panas. Agar lebih yakin, segera temui dokter. Minta agardiberi sirup obat batuk yang terbuat dari gliserin dan sedikit gula. Obat ini bisa menghentikan batuk yang cukup parah.